Jumat, 29 November 2013

"Parasit"

          Ketika arti hidup harus dipertanyakan, ketika arti hadir seseorang juga harus dipertanyakan. Adakah keadilan didunia ini yang tercipta untuk kedamaian abadi ? parasit yang tumbuh di sebuah pohon atau sekuntum bunga yang tahunya hanya mengisap sesuka hati tanpa memikirkan kerugian yang dtumpanginya, haruskah dibiarkan berkembang biak ?  Saat ini, di dunia yang tidak tahu lagi bagaimana roda kehidupan didalamnya seakan memaksa untuk tetap berdiam diri melawan parasit hidup.
          Negara ini, seakan diam terbodoh menyaksikan sebuah film lucu yang dilakoni oleh semua tikus berdasi. Mengapa harus diam ? Mengapa harus takut ? Tidakkah semuanya hanya sementara ? Mengapa yang benar tidak pernah akan selalu menjadi abadi ? Mengapa yang benar akan meraih kemenangan ketika semuanya sudah jenuh ? Apalah arti seorang prajurit jika kata-kata yang sudah disusun sedemikian rupa di balik sebuah perundang-undangan juga hanya bisa di tembus oleh rupiah ? Baiklah, Sang Khalik menjadi penentu.
          Lingkungan ya lingkungan. Ketika negara yang telah memiliki seorang pemimpin saja telah gagal untuk memperjuangkan, adakah harapan untuk lingkungan atau individu untuk lebih bertumbuh ke depannya ? Kompas pun sudah mengetahui arah kehidupan manusia sekarang. Parasit masih saja menari di tengah-tengah duri-duri kehidupan. Parasit yang sangat menyusahkan. Ketika hidupmu habis hanya untuk menyusahkan sesamamu, biarlah kiranya kau berlapang dada untuk menyandarkan hidupmu di bawah batu nisan. Apalah arti sebuah kemah kehidupan yang sementara ini untukmu, Hai Parasit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar