“Segenggam
harapan yang dulu ditanam ketika rok biru dan baju putih yang dinamakan seragam
masih menjadi sahabat gadis ini. Harapan kebersamaan untuk selama-lamanya
menjulang tinggi telah berlalu. Kurang lebih 2 tahun kemudian pada saat itu
terdengar kabar sebuah tongkat harapan untuk menjadi seperti bangunan yang
kokoh telah patah. Hancur berkeping-keping. Gila segila-gilanya. Teriak tiada
henti. Isak tangis menjadi jenis suara yang tidak disukai pada saat itu. Kenapa
dan Mengapa ? “
Bumi dan Langit
Berbeda tapi seiring
Di ciptakan untuk saling
melengkapi
Melengkapi sandiwara ini
Mendung dan cerah
Berbeda tapi hampir serupa
Di ciptakan sebagai kiasan
Kiasan sandiwara ini
Ya...begitulah kira-kira pilunya
Kebersamaan yang Cuma sekilas
saja
Seperti bumi dan langit
Hanya bisa bertatapan dari
kejauhan
Kebersamaan yang sebatas situasi
Seperti mendung dan cerah
Terpisahkan oleh sebuah warna
“6
tahun kemudian tepat di tahun yang berakhir dengan angka 13 ini, semua tak
seperti dahulu lagi. Tongkat itu akan tetap menjadi tongkat di hati. Tiada guna
di tangisi. Pada akhirnya semua harus kembali kepada sang khalik.”
Pagi ini nyanyian ceria di bawakan sang cuaca
Meskipun tak seceria beberapa
tahun yang lalu
Langit telah mengukir senyum
sendirinya
Mengawali langkah di pagi yang
ceria ini
Linangan ini tak akan menjadi
seperti linangan kemarin
Linangan ini menjadi awal
kekuatan akan sebuah perpisahan
Tiada kata mati untuk ini semua
Bangkit dan serukanlah
Hidupmu adalah hidupmu
Matiku adalah matiku
Hidup dan mati adalah sebuah
pasangan
Pasangan yang tak akan pernah
untuk bersatu
Damai akan selalu bersamamu
Dunia sudah berbeda memang
Jalan sang khalik lebih berkuasa
Selamat terlelap untukmu tongkat
harapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar