Ketika
arti hidup harus dipertanyakan, ketika arti hadir seseorang juga harus
dipertanyakan. Adakah keadilan didunia ini yang tercipta untuk kedamaian abadi
? parasit yang tumbuh di sebuah pohon atau sekuntum bunga yang tahunya hanya
mengisap sesuka hati tanpa memikirkan kerugian yang dtumpanginya, haruskah
dibiarkan berkembang biak ? Saat ini, di
dunia yang tidak tahu lagi bagaimana roda kehidupan didalamnya seakan memaksa
untuk tetap berdiam diri melawan parasit hidup.
Negara
ini, seakan diam terbodoh menyaksikan sebuah film lucu yang dilakoni oleh semua
tikus berdasi. Mengapa harus diam ? Mengapa harus takut ? Tidakkah semuanya
hanya sementara ? Mengapa yang benar tidak pernah akan selalu menjadi abadi ?
Mengapa yang benar akan meraih kemenangan ketika semuanya sudah jenuh ? Apalah
arti seorang prajurit jika kata-kata yang sudah disusun sedemikian rupa di
balik sebuah perundang-undangan juga hanya bisa di tembus oleh rupiah ?
Baiklah, Sang Khalik menjadi penentu.
Lingkungan
ya lingkungan. Ketika negara yang telah memiliki seorang pemimpin saja telah
gagal untuk memperjuangkan, adakah harapan untuk lingkungan atau individu untuk
lebih bertumbuh ke depannya ? Kompas pun sudah mengetahui arah kehidupan
manusia sekarang. Parasit masih saja menari di tengah-tengah duri-duri
kehidupan. Parasit yang sangat menyusahkan. Ketika hidupmu habis hanya untuk
menyusahkan sesamamu, biarlah kiranya kau berlapang dada untuk menyandarkan
hidupmu di bawah batu nisan. Apalah arti sebuah kemah kehidupan yang sementara
ini untukmu, Hai Parasit.