Hari
ini gadis itu merasa berbeda setelah mengingat semua perbincangan pada malam
itu bahkan sebelumnya. Sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini lagi dan
ini memang yang dia nanti sebenarnya sebagai penyemangatnya. Baru 2 kali
terbilang dia merasakan sesuatu yang dinamakan berbunga-bunga. Dan hampir 5
tahun dia belum merasakan itu kembali setelah sukses move on dari 2 memori
tersebut. Tapi, hari ini memang sungguh berbeda. Sepetinya dia merasakan hal
yang sama kembali seperti masa-masa dulu. Satu sisi, dia bertanya kembali untuk
apa ini semua kalau hanya aku saja yang merasakannya ? Please, jangan lagi..semua itu hanya sebatas
cengkrama, sebatas hobi yang sama, sebatas berbagi kasih selayaknya. Menegarkan
hati dan sesekali menghirup udara bebas dilakukannya. Sebenarnya, sudah lama
gadis itu menanti hal seperti ini dan berharap akan mendapatkannya segera.
Tapi, dengan keterbatasan fisik, egois, pemalu
(mungkin) membuat dia harus terpaku dan terpaku lagi. Terkadang dia bertanya
dalam hati, kenapa aku harus seperti ini ? kenapa ada orang-orang yang
mendekatiku tetapi aku tidak bisa menerima mereka ? Kapan aku dipertemukan
dengan seseorang yang benar-benar tulus untukku dan aku juga merasakannya ?
Jawabannya, Mari belajar mencintai satu sama lain . Mengisi kekurangan pasangan
dengan kelebihan yang kita punya. Ya, memang itulah jawabannya. Ketika semua
memang sudah diperkenankan untuk bertemu, maka ketulusan menemani itu semua.
Abadi akan selalu mengiringi.
Ketika
arti hidup harus dipertanyakan, ketika arti hadir seseorang juga harus
dipertanyakan. Adakah keadilan didunia ini yang tercipta untuk kedamaian abadi
? parasit yang tumbuh di sebuah pohon atau sekuntum bunga yang tahunya hanya
mengisap sesuka hati tanpa memikirkan kerugian yang dtumpanginya, haruskah
dibiarkan berkembang biak ? Saat ini, di
dunia yang tidak tahu lagi bagaimana roda kehidupan didalamnya seakan memaksa
untuk tetap berdiam diri melawan parasit hidup.
Negara
ini, seakan diam terbodoh menyaksikan sebuah film lucu yang dilakoni oleh semua
tikus berdasi. Mengapa harus diam ? Mengapa harus takut ? Tidakkah semuanya
hanya sementara ? Mengapa yang benar tidak pernah akan selalu menjadi abadi ?
Mengapa yang benar akan meraih kemenangan ketika semuanya sudah jenuh ? Apalah
arti seorang prajurit jika kata-kata yang sudah disusun sedemikian rupa di
balik sebuah perundang-undangan juga hanya bisa di tembus oleh rupiah ?
Baiklah, Sang Khalik menjadi penentu.
Lingkungan
ya lingkungan. Ketika negara yang telah memiliki seorang pemimpin saja telah
gagal untuk memperjuangkan, adakah harapan untuk lingkungan atau individu untuk
lebih bertumbuh ke depannya ? Kompas pun sudah mengetahui arah kehidupan
manusia sekarang. Parasit masih saja menari di tengah-tengah duri-duri
kehidupan. Parasit yang sangat menyusahkan. Ketika hidupmu habis hanya untuk
menyusahkan sesamamu, biarlah kiranya kau berlapang dada untuk menyandarkan
hidupmu di bawah batu nisan. Apalah arti sebuah kemah kehidupan yang sementara
ini untukmu, Hai Parasit.