Tak terungkap semua yang di
relung hati.
Melebihi sebuah kata-kata.
Ini bukan yang pertama.
Atau mungkin bukan juga untuk
terakhir kalinya.
Sakit yang dirasa melebihi
sebuah sayatan.
Karatan pisau pemicu luka.
Tak perlu disesali untuk
menangisi keadaan.
Inilah yang ku rasakan pada
saat ini.
Dia seorang yang bijaksana
semasa hidupnya.
Dia seorang yang berwibawa
semasa hidupnya.
Dia seorang yang berhati suci
semasa Hidupnya.
Dia seorang yang selalu
dikenang dimanapun dia berada.
Kenyataan inilah yang harus ku
terima.
Bahkan ini adalah sebuah
takdir.
Takdirku kehilanganmu.
Kehilanganmu oh Ayah..
15 Tahun bersamamu.
Waktu yang begitu singkat.
Kau tinggalkan aku dengan
dengan sejuta senyuman.
Senyuman yang hanya tinggal
beberapa jam lagi.
Kau Hantarkan aku ke tempat
aku menimbah ilmu.
Tapi tak berapa jam kemudian
ku hantarkan kau ke tempat peristirahatan terakhirmu.
Inilah kenyataan yang ku
terimah Ayah.
Ku yakin tak maksudmu
meninggalkanku untuk slamanya.
Mendoakanmu adalah jalan yang
terbaik.
Tenanglah disana.
Akan ada waktu untuk kita
bersama lagi.
Salam rinduku untukmu, Ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar